Dulu—entah kapan, intinya
pas gue lagi mandi—gue pernah punya sebuah pemikiran. Pemikiran ini timbul
karena memori gue di masa kecil yang mendadak muncul. Sewaktu kecil, gue sering
baca majalah bobo. Gue pernah baca sebuah cerpen yang entah kenapa pesannya
masih gue inget. Inti pesannya adalah jangan memberi uang kepada pengemis yang
hanya meminta tanpa berusaha. Si penulis lebih menganjurkan kita untuk
memberikan uang kepada yang berusaha, misalnya pengemis yang menyanyi. Dari
situ gue mikir, “Bener juga, ya. Mereka kan masih diberi nikmat hidup, anggota
tubuh yang lengkap—well, most of them—, dan otak untuk berpikir. Untuk alasan
apalagi mereka nggak mau berusaha?”
Sejak saat itu, gue berniat
nggak mau memberi uang kepada pengemis yang hanya ‘minta-minta’ dengan tujuan
supaya mereka berpikir untuk berusaha lebih keras karena menurut gue ‘minta-minta’
itu adalah sebuah bentuk keputusasaan atas hidup yang kurang beruntung. Dan
Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berputus asa. Di hari itu juga gue berpikir
kalau gue ingin sedikit mengedukasi temen-temen gue untuk melakukan hal yang
sama setelah nanti gue berhasil menerapkannya. Well, sekarang gue udah sering
menerapkannya, hanya saja gue belom mendapatkan kesempatan untuk mengedukasi
temen-temen gue.
But somehow, sekarang ada
satu pemikiran yang kembali membuat gue berpikir apakah pemikiran gue dalam dua
paragraf di atas tepat. Hari ini, gue iseng membuka blognya Kak Gitasav.
Ternyata ada posting-an baru. Gue pun
baca. Dalam tulisannya Kak Gita bercerita bagaimana seringnya ia ragu-ragu –yang
lebih sering berujung pada keputusan tidak—untuk memberikan uang kepada pengemis.
Kak Gita merasa resah bahwa uang yang akan ia gunakan akan digunakan untuk mendapatkan
kesenangan temporer. Kak Gita merasa berat untuk menyisihkan uang bagi mereka
yang tidak berusaha cukup keras untuk keluar dari kesengsaraan.
Masih dalam tulisannya Kak
Gita menyiratkan bahwa pemikirannya akan semua hal itu telah berubah semenjak
ia mendapatkan Direct Message dari
seorang temannya. Temannya bercerita tentang percakapan antara Nabi Musa as. dan
Allah SWT. Nabi Musa bertanya tentang ibadah yang membuat Allah senang.
Allah SWT menjawab, “Sedekah.
Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah,
sesungguhnya Aku sedang berada di sampingnya.”
Dalam akhir tulisannya, Kak
Gita menuliskan, “Look at you, Gita. Si manusia yang punya seribu alasan untuk tidak
membahagiakan si pengemis, padahal sebenarnya lo tidak membutuhkan satu alasan
pun untuk menolong orang lain.”
Tulisan dari Kak Gita—yang bisa
kalian baca lengkap di sini—sedikit banyak memengaruhi pemikiran gue. Gue
setuju dengan Kak Gita bahwa untuk menolong orang—dalam hal ini bersedekah—tidak
membutuhkan seribu alasan. Bahkan tidak melulu yang harus disedekahkan itu
pengemis, kalau mau kita juga bisa menyedekahkan uang kita pada orang yang
mampu. Contoh, ketika lebaran pasti saudara yang lebih tua dari kalian akan
memberi uang lebaran, bukan? Nah, hal itu bisa disebut juga bersedekah. Kunci
dari sedekah itu yang penting ikhlas dan lillahi ta’aala. Sampai sini gue sangat setuju. Perihal pengemis yang tidak mau berusaha, cukup nasehati mereka dengan baik-baik lalu doakan mereka.