Wednesday, January 24, 2018

Konsep Sedekah kepada Pengemis

Duluentah kapan, intinya pas gue lagi mandigue pernah punya sebuah pemikiran. Pemikiran ini timbul karena memori gue di masa kecil yang mendadak muncul. Sewaktu kecil, gue sering baca majalah bobo. Gue pernah baca sebuah cerpen yang entah kenapa pesannya masih gue inget. Inti pesannya adalah jangan memberi uang kepada pengemis yang hanya meminta tanpa berusaha. Si penulis lebih menganjurkan kita untuk memberikan uang kepada yang berusaha, misalnya pengemis yang menyanyi. Dari situ gue mikir, “Bener juga, ya. Mereka kan masih diberi nikmat hidup, anggota tubuh yang lengkap—well, most of them—, dan otak untuk berpikir. Untuk alasan apalagi mereka nggak mau berusaha?”

Sejak saat itu, gue berniat nggak mau memberi uang kepada pengemis yang hanya ‘minta-minta’ dengan tujuan supaya mereka berpikir untuk berusaha lebih keras karena menurut gue ‘minta-minta’ itu adalah sebuah bentuk keputusasaan atas hidup yang kurang beruntung. Dan Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berputus asa. Di hari itu juga gue berpikir kalau gue ingin sedikit mengedukasi temen-temen gue untuk melakukan hal yang sama setelah nanti gue berhasil menerapkannya. Well, sekarang gue udah sering menerapkannya, hanya saja gue belom mendapatkan kesempatan untuk mengedukasi temen-temen gue.

But somehow, sekarang ada satu pemikiran yang kembali membuat gue berpikir apakah pemikiran gue dalam dua paragraf di atas tepat. Hari ini, gue iseng membuka blognya Kak Gitasav. Ternyata ada posting-an baru. Gue pun baca. Dalam tulisannya Kak Gita bercerita bagaimana seringnya ia ragu-ragu –yang lebih sering berujung pada keputusan tidak—untuk memberikan uang kepada pengemis. Kak Gita merasa resah bahwa uang yang akan ia gunakan akan digunakan untuk mendapatkan kesenangan temporer. Kak Gita merasa berat untuk menyisihkan uang bagi mereka yang tidak berusaha cukup keras untuk keluar dari kesengsaraan.

Masih dalam tulisannya Kak Gita menyiratkan bahwa pemikirannya akan semua hal itu telah berubah semenjak ia mendapatkan Direct Message dari seorang temannya. Temannya bercerita tentang percakapan antara Nabi Musa as. dan Allah SWT. Nabi Musa bertanya tentang ibadah yang membuat Allah senang.

Allah SWT menjawab, “Sedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya Aku sedang berada di sampingnya.”

Dalam akhir tulisannya, Kak Gita menuliskan, “Look at you, Gita. Si manusia yang punya seribu alasan untuk tidak membahagiakan si pengemis, padahal sebenarnya lo tidak membutuhkan satu alasan pun untuk menolong orang lain.”

Tulisan dari Kak Gita—yang bisa kalian baca lengkap di sini—sedikit banyak memengaruhi pemikiran gue. Gue setuju dengan Kak Gita bahwa untuk menolong orang—dalam hal ini bersedekah—tidak membutuhkan seribu alasan. Bahkan tidak melulu yang harus disedekahkan itu pengemis, kalau mau kita juga bisa menyedekahkan uang kita pada orang yang mampu. Contoh, ketika lebaran pasti saudara yang lebih tua dari kalian akan memberi uang lebaran, bukan? Nah, hal itu bisa disebut juga bersedekah. Kunci dari sedekah itu yang penting ikhlas dan lillahi ta’aala. Sampai sini gue sangat setuju. Perihal pengemis yang tidak mau berusaha, cukup nasehati mereka dengan baik-baik lalu doakan mereka.