Wednesday, March 22, 2017

Belajar Bercita-Cita

Dulu gue pernah bilang kalau gue itu tipe orang yang nggak punya cita-cita jangka menengah apalagi jangka panjang. Tujuan hidup gue cuma menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya dan memastikan bahwa hari besok harus lebih baik dari hari ini. But, guess what? Semenjak gue menjadi anak kuliahan, gue mendadak bisa punya cita-cita meskipun baru sebatas cita-cita jangka menengah.

Dari SD sampai SMA, jenis-jenis orang yang gue temui cuma itu-itu aja. Masalah yang gue temui juga itu-itu aja. Akibatnya, gue jadi punya mindset kalau kemampuan yang gue miliki saat itu udah lebih dari cukup. Gara-gara mindset yang seperti itu, gue jadi nggak punya pikiran untuk lebih mengembangkan potensi yang ada dalam diri gue. Bukan karena gue sombong atau gue merasa udah paling jago, tetapi semata karena gue nggak tahu mau mengembangkan potensi apa lagi di saat gue merasa kemampuan gue udah lebih dari cukup untuk sekadar survive.

Di dunia perkuliahan, gue terpaksa keluar dari zona nyaman gue. Gue hidup di luar kota tanpa didampingi kedua orang tua lagi. Gue benar-benar dilepas for the first time in my whole life. Di saat itulah masalah-masalah kehidupan yang sesungguhnya dan nggak pernah gue alami sebelumnya mulai berdatangan. Pergaulan gue juga semakin luas. Orang-orang yang gue temui semakin beragam, dan tentunya banyak yang jauh lebih hebat dari orang-orang yang pernah gue temui selama ini.  Di situ gue merasa kalau gue ini nggak ada apa-apanya banget dibanding mereka. Iya, gue baru sadar kalau kekurangan gue masih banyak banget. Gue juga baru sadar kalau kehidupan yang sesungguhnya itu di mulai ketika gue resmi dilepas oleh kedua orang tua gue untuk nggak tinggal bersama mereka dan keluar dari zona nyaman gue. Ternyata, kehidupan yang sesungguhnya itu nggak seindah kehidupan yang selama ini gue tahu. Betapa naifnya gue saat itu dengan berpikir bahwa kemampuan gue udah lebih dari cukup buat survive.

Keluar dari zona nyaman dan merasakan kehidupan yang sesungguhnya membuat gue perlahan lebih mengenali diri gue. Gue jadi lebih tahu kelebihan dan kekurangan gue. Gue juga jadi lebih tahu apa yang gue butuhkan atau inginkan. Sebagai contoh, gue seringkali bertemu dengan banyak mahasiswa yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga aktif dalam berorganisasi. Sementara itu, pengalaman organisasi gue masih nol besar. Padahal mereka lah yang nantinya akan menjadi saingan gue di dunia kerja. Kalau gue hanya fokus meraih IPK bagus aja, maka nantinya gue akan kalah saing dengan mereka karena mereka tentunya lebih memiliki soft-skills  yang didapatkan dengan berorganisasi. Gue pun berpikir bahwa gue juga harus mulai mencoba berorganisasi dengan serius. Gue harus mengembangkan potensi diri dan menambah soft-skills. Soalnya waktu SMA gue ikut organisasi karena ikut-ikutan teman aja tanpa tahu apa esensinya. Akhirnya, gue membuat target, yaitu gue harus aktif mengikuti kepanitiaan acara dan setidaknya menjadi pengurus salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) selama setahun ke depan. Gue pun mulai merancang strategi dan langkah-langkah yang tepat untuk mencapai target tersebut. Tanpa sadar, gue udah mulai merancang cita-cita dan berusaha merealisasikannya.

Sekarang, gue jadi tahu bahwa jika gue ingin merancang cita-cita, gue harus mengenali diri gue terlebih dahulu. Gue harus tahu kelebihan dan kekurangan diri gue serta apa yang gue butuhkan atau inginkan dalam hidup gue. Dan untuk mengetahui itu semua, gue perlu keluar dari zona nyaman gue.