Friday, September 29, 2017

Perkataan Buruk

Kemarin, seseorang dan beberapa temannya tiba-tiba ngomong sesuatu yang ngga enak banget (menurut gue) tentang gue padahal disitu situasinya lagi banyak banget orang. Parahnya, dia gabegitu kenal gue dan gue pun juga gitu. Gue cuma bisa masang tampang datar saat itu, pura-pura nggak ngerti kalau perkataan itu ditujukan buat gue. Gue pikir gue bisa biasa aja menanggapi hal itu. Tapi ternyata, gue bener-bener langsung ngerasa bete dan kesel seharian padahal gue tau itu cuma sebuah candaan aja. Gue udah coba mengusir semua rasa itu tapi nggak bisa. Efeknya pun masih terasa sampe beberapa hari berikutnya.


Akhir-akhir ini, gue emang suka khilaf kalau bercanda sama temen-temen gue. Gue sama temen-temen gue kadang suka bercanda dan menertawakan orang lain, entah karena orang itu sikapnya aneh atau karena hal lainnya yang menurut kami lucu. Jahat? Iya, gue menyadari hal itu kok. Tapi entah kenapa, waktu itu gue seakan-akan nggak inget kalau perasaan orang lain itu bisa tersakiti walaupun semua itu hanya candaan belaka. Mungkin orang yang ditertawakan akan ikut tertawa atau terlihat biasa aja dalam menanggapi candaan gue sama temen-temen gue, seakan-akan dia nggak masalah sama hal itu. Tapi, gue lupa kalau gue nggak bisa membaca hati seseorang. Gue lupa kalau manusia jaman sekarang itu sangat pandai memakai topeng, pandai bersandiwara. Dengan kejadian kemarin, Allah seakan ingin mengingatkan gue tentang hal itu. Gue akhirnya kembali tersadarkan bahwa ternyata efek perkataan buruk bisa sangat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang walaupun di luar dia terlihat biasa aja. Well sebenarnya, perkataan baik pun juga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, sih. Tapi, di tulisan kali ini gue mau fokus ke yang perkataan buruk aja. Gue bersyukur Allah masih baik sama gue karena mau mengingatkan semua hal itu dengan perantara orang lain. Bagaimana kalau Allah tidak mengingatkan dan menegur gue? Tentu dosa gue akan semakin menumpuk.