Malam Senin kemarin gue habiskan
dengan menemani bokap dan nyokap gue ke sebuah pengajian rutin. Waktu jalan
pulang, nyokap gue udah tidur di kursi belakang, tersisalah gue dan bokap gue.
Tiba-tiba, bokap gue ngomong gini, “Fin, kamu sholat dan doanya gimana selama
kuliah? Jangan sampai lalai sholat dan kendor doanya karena kesibukan.”
Tanpa menjawab pertanyaannya—tentunya
karena gue enggak tau mau jawab apa—gue akhirnya cuma meng-iya-kan nasehat
bokap gue aja. Gue enggak akan mungkin berani bilang kalau selama ini gue
sholatnya sering telat dan doanya mulai kendor—walaupun akhir-akhir ini gue
udah mulai memperbaiki, kok. Kalau ketahuan, gue bisa dihukum, dan gue lagi
enggak mau banget ribut-ribut sama bokap gue. Jadi, cukup gue dan Allah aja
yang tau permasalahan ini.
Terus, bokap gue melanjutkan
omongannya, “Sekarang kamu tau ‘kan huru-hara udah terjadi di mana-mana.
Tanda-tanda kiamat makin banyak terlihat. Kalau nantinya ilmu kamu enggak
sempat terpakai karena udah keburu kiamat gimana? Apa ilmu dunia kamu bisa
menolong kamu di akhirat nanti?”
Wah, gila juga, kata gue secara spontan dalam hati. Omongan bokap
gue itu bener-bener ngena di hati dan nyangkut di otak gue. Gue akhir-akhir ini
enggak pernah kepikiran sampai sana karena gue terlalu sibuk ngurusin hal-hal
yang duniawi. Omongan bokap gue ini bikin gue jadi makin sadar kalau gue memang
sudah terlalu mengesampingkan urusan agama. Terlalu sibuk mengejar hal-hal yang
duniawi membuat gue lupa akan kematian dan kiamat yang menunggu gue di masa
depan. Manusia enggak akan pernah tau apa yang akan terjadi padanya di masa
depan, tetapi manusia pasti akan kembali ke tanah dan bumi tempat manusia
berpijak akan hancur saat kiamat.