Wednesday, July 26, 2017

Masa Depan Manusia

Malam Senin kemarin gue habiskan dengan menemani bokap dan nyokap gue ke sebuah pengajian rutin. Waktu jalan pulang, nyokap gue udah tidur di kursi belakang, tersisalah gue dan bokap gue. Tiba-tiba, bokap gue ngomong gini, “Fin, kamu sholat dan doanya gimana selama kuliah? Jangan sampai lalai sholat dan kendor doanya karena kesibukan.”

Tanpa menjawab pertanyaannya—tentunya karena gue enggak tau mau jawab apa—gue akhirnya cuma meng-iya-kan nasehat bokap gue aja. Gue enggak akan mungkin berani bilang kalau selama ini gue sholatnya sering telat dan doanya mulai kendor—walaupun akhir-akhir ini gue udah mulai memperbaiki, kok. Kalau ketahuan, gue bisa dihukum, dan gue lagi enggak mau banget ribut-ribut sama bokap gue. Jadi, cukup gue dan Allah aja yang tau permasalahan ini.

Terus, bokap gue melanjutkan omongannya, “Sekarang kamu tau ‘kan huru-hara udah terjadi di mana-mana. Tanda-tanda kiamat makin banyak terlihat. Kalau nantinya ilmu kamu enggak sempat terpakai karena udah keburu kiamat gimana? Apa ilmu dunia kamu bisa menolong kamu di akhirat nanti?”

Wah, gila juga, kata gue secara spontan dalam hati. Omongan bokap gue itu bener-bener ngena di hati dan nyangkut di otak gue. Gue akhir-akhir ini enggak pernah kepikiran sampai sana karena gue terlalu sibuk ngurusin hal-hal yang duniawi. Omongan bokap gue ini bikin gue jadi makin sadar kalau gue memang sudah terlalu mengesampingkan urusan agama. Terlalu sibuk mengejar hal-hal yang duniawi membuat gue lupa akan kematian dan kiamat yang menunggu gue di masa depan. Manusia enggak akan pernah tau apa yang akan terjadi padanya di masa depan, tetapi manusia pasti akan kembali ke tanah dan bumi tempat manusia berpijak akan hancur saat kiamat.