Sunday, April 30, 2017

Being An Introvert

Setelah sekian lama berniat untuk menulis tentang kepribadian introvert, akhirnya gue berhasil merealisasikannya sekarang karena ada sesuatu yang nge-triggered gue. Beberapa waktu lalu, gue melihat pesan anonim di sebuah official account. Isinya kurang lebih menceritakan tentang curhatan seorang introvert yang nggak pede untuk berorganisasi. Segala stereotipe tentang orang introvert tampaknya mengendalikan mental dan pikiran dia. Akibatnya, dia bener-bener menjadi minder, malu, dan nggak pede untuk terjun ke organisasi. Dia takut untuk bersosialisasi dan menyuarakan pemikiran dan ide-idenya. Bertemu dan bergaul dengan banyak orang baru menjadi momok yang menakutkan buat dia. Akhirnya, dia nggak berani berorganisasi sama sekali.

Gue sangat bisa relate dengan orang tersebut karena dulu gue pernah mengalami masa-masa itu. Menurut gue, hidup menjadi seorang introvert itu cukup melelahkan. Cukup banyak tantangan yang gue udah temui selama 19 tahun menjadi seorang introvert. Tapi jujur aja, semua tantangan yang udah gue lewati mampu mendewasakan pikiran gue dan membangun gue menjadi orang yang tahan banting. Salah satu tantangan yang paling berat adalah membentengi diri dari berbagai stereotipe tentang orang introvert supaya mental dan pikiran gue nggak terpengaruh. Orang introvert seringkali distereotipkan sebagai orang yang kurang bisa bergaul, awkward, nerd, minder, dan nggak punya kemampuan buat bersosialisasi.

Jujur aja, waktu jaman SMP awal gue pernah terpengaruh stereotipe tersebut. Kondisi mental dan pikiran gue kurang lebih sama seperti orang yang gue ceritakan di atas. Kalau lagi kumpul ekstrakurikuler gue lebih banyak menyendirinya. Saat itu, gue, nggak tahu kenapa, takut banget sama pemikiran orang tentang gue. Gue takut kalau gue nimbrung sama orang, orang itu nggak akan welcome sama gue. Gue takut sakit hati. Akibatnya, gue pun menutup diri. Kalau gue inget masa-masa itu, gue ngerasa bodoh banget. Bisa-bisanya gue punya ketakutan yang nggak berdasar, padahal gue belum mencoba sama sekali untuk dekat sama orang-orang itu. Suatu ketika, gue ketemu salah satu kakak kelas yang dulu bergabung di ekstrakurikuler yang sama terus dia nanya gini ke gue, “Fin, kenapa, sih, dulu kamu jarang gabung sama kita-kita? Padahal, mah, harusnya gabung aja. Kita seru-seruan bareng.” Gue ngerasa makin bodoh karena ternyata ketakutan gue dulu terbukti salah. Terus gue mikir kenapa juga gue harus takut sama mereka. Kita itu kan sama-sama manusia, sama-sama makan nasi, sama-sama hidup di bumi, sama-sama ciptaan Allah. Harusnya yang gue takutkan itu Allah, bukan mereka. Sejak saat itu, gue secara perlahan mulai membangun rasa percaya diri gue.

Selama beberapa tahun, gue jatuh bangun membentuk rasa percaya diri dan membentengi diri dari berbagai stereotipe yang ada supaya nggak minder. Gue mencoba untuk lebih mempercayai, menghargai dan, mencintai diri gue sendiri. Gue belajar untuk percaya diri dalam berorganisasi. Gue belajar untuk nggak peduli sama kritik-kritik yang nggak membangun dan nyinyiran dari orang-orang. Gue akui semua proses itu susah banget dan melelahkan. Tapi, semua itu worth it karena gue akhirnya bisa hidup sebagai orang yang percaya diri dan tahan banting. Gue akhirnya bisa menjadi orang yang dipercaya dan diandalkan saat berorganisasi. Dan yang paling penting, gue bisa bangga dan bahagia hidup sebagai orang introvert.

Intinya, gue mau membuktikan bahwa orang yang memiliki kepribadian introvert itu nggak melulu kurang bisa bergaul, awkward, nerd, minder, dan nggak punya kemampuan buat bersosialisasi kok. Lagipula, siapa bilang orang extrovert nggak pernah minder? Banyak juga, kok, temen-temen gue yang extrovert tapi pernah ngerasa minder. Semua itu balik lagi ke mental dan pola pikir masing-masing orang, sama sekali nggak ada hubungannya dengan kepribadian introvert atau extrovert. Kalau begitu, terus perbedaan orang introvert dan extrovert itu apa dong? Nah, perbedaannya adalah cara kita mendapatkan energi dan semangat. Orang introvert mendapatkan energi dan semangat ketika mereka sedang menyendiri atau me-time. Sedangkan, orang extrovert biasanya mendapatkan semua itu ketika mereka berkumpul dengan orang banyak. Gitu, sih, yang gue tahu. Kalau salah, mohon dikoreksi.

Terakhir, gue mau berpesan buat kalian para introvert yang masih ngerasa kurang percaya diri, semangat berubah ya! Gue aja bisa membangun rasa percaya diri, masa kalian nggak? Pasti kalian juga bisa! Jangan pernah berpikiran kalau jadi orang introvert itu sebuah hal yang negatif. Banyak, loh, orang-orang introvert yang keren dan hebat, contohnya Kak Gita Savitri Devi, Kak Alanda Kariza, Kak Bernard Batubara, dan masih banyak lagi. Kalau nggak percaya, coba deh searching di google. Terus gue juga mau bilang bahwa berorganisasi, bertemu, dan bergaul dengan banyak orang itu nggak semenakutkan yang kalian pikir kok. Kalau ada orang yang berpotensi menjatuhkan mental kalian, abaikan aja. Tapi, kalau ada yang memberikan kritik membangun, terima dengan senang hati karena itu bentuk kepedulian mereka kepada kalian kok. Semangat!

Terus, buat kalian semua yang sudah merasa percaya diri, tolong temen-temennya yang masih suka minderan tuh dirangkul dan diberi motivasi. Dukungan dari kalian semua, tuh, sangat berpengaruh positif buat mereka. Jangan malah dinyinyirin dan diremehin. Terima kasih.