Friday, September 29, 2017

Perkataan Buruk

Kemarin, seseorang dan beberapa temannya tiba-tiba ngomong sesuatu yang ngga enak banget (menurut gue) tentang gue padahal disitu situasinya lagi banyak banget orang. Parahnya, dia gabegitu kenal gue dan gue pun juga gitu. Gue cuma bisa masang tampang datar saat itu, pura-pura nggak ngerti kalau perkataan itu ditujukan buat gue. Gue pikir gue bisa biasa aja menanggapi hal itu. Tapi ternyata, gue bener-bener langsung ngerasa bete dan kesel seharian padahal gue tau itu cuma sebuah candaan aja. Gue udah coba mengusir semua rasa itu tapi nggak bisa. Efeknya pun masih terasa sampe beberapa hari berikutnya.


Akhir-akhir ini, gue emang suka khilaf kalau bercanda sama temen-temen gue. Gue sama temen-temen gue kadang suka bercanda dan menertawakan orang lain, entah karena orang itu sikapnya aneh atau karena hal lainnya yang menurut kami lucu. Jahat? Iya, gue menyadari hal itu kok. Tapi entah kenapa, waktu itu gue seakan-akan nggak inget kalau perasaan orang lain itu bisa tersakiti walaupun semua itu hanya candaan belaka. Mungkin orang yang ditertawakan akan ikut tertawa atau terlihat biasa aja dalam menanggapi candaan gue sama temen-temen gue, seakan-akan dia nggak masalah sama hal itu. Tapi, gue lupa kalau gue nggak bisa membaca hati seseorang. Gue lupa kalau manusia jaman sekarang itu sangat pandai memakai topeng, pandai bersandiwara. Dengan kejadian kemarin, Allah seakan ingin mengingatkan gue tentang hal itu. Gue akhirnya kembali tersadarkan bahwa ternyata efek perkataan buruk bisa sangat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang walaupun di luar dia terlihat biasa aja. Well sebenarnya, perkataan baik pun juga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, sih. Tapi, di tulisan kali ini gue mau fokus ke yang perkataan buruk aja. Gue bersyukur Allah masih baik sama gue karena mau mengingatkan semua hal itu dengan perantara orang lain. Bagaimana kalau Allah tidak mengingatkan dan menegur gue? Tentu dosa gue akan semakin menumpuk. 

Wednesday, July 26, 2017

Masa Depan Manusia

Malam Senin kemarin gue habiskan dengan menemani bokap dan nyokap gue ke sebuah pengajian rutin. Waktu jalan pulang, nyokap gue udah tidur di kursi belakang, tersisalah gue dan bokap gue. Tiba-tiba, bokap gue ngomong gini, “Fin, kamu sholat dan doanya gimana selama kuliah? Jangan sampai lalai sholat dan kendor doanya karena kesibukan.”

Tanpa menjawab pertanyaannya—tentunya karena gue enggak tau mau jawab apa—gue akhirnya cuma meng-iya-kan nasehat bokap gue aja. Gue enggak akan mungkin berani bilang kalau selama ini gue sholatnya sering telat dan doanya mulai kendor—walaupun akhir-akhir ini gue udah mulai memperbaiki, kok. Kalau ketahuan, gue bisa dihukum, dan gue lagi enggak mau banget ribut-ribut sama bokap gue. Jadi, cukup gue dan Allah aja yang tau permasalahan ini.

Terus, bokap gue melanjutkan omongannya, “Sekarang kamu tau ‘kan huru-hara udah terjadi di mana-mana. Tanda-tanda kiamat makin banyak terlihat. Kalau nantinya ilmu kamu enggak sempat terpakai karena udah keburu kiamat gimana? Apa ilmu dunia kamu bisa menolong kamu di akhirat nanti?”

Wah, gila juga, kata gue secara spontan dalam hati. Omongan bokap gue itu bener-bener ngena di hati dan nyangkut di otak gue. Gue akhir-akhir ini enggak pernah kepikiran sampai sana karena gue terlalu sibuk ngurusin hal-hal yang duniawi. Omongan bokap gue ini bikin gue jadi makin sadar kalau gue memang sudah terlalu mengesampingkan urusan agama. Terlalu sibuk mengejar hal-hal yang duniawi membuat gue lupa akan kematian dan kiamat yang menunggu gue di masa depan. Manusia enggak akan pernah tau apa yang akan terjadi padanya di masa depan, tetapi manusia pasti akan kembali ke tanah dan bumi tempat manusia berpijak akan hancur saat kiamat. 

Thursday, May 11, 2017

Panggilan Adzan v.s. Panggilan Rapat

Disclaimer: Gue menulis ini dengan tujuan untuk muhasabah diri. Kenapa gue menulisnya di blog? Soalnya, blog itu sudah gue anggep diary gue sendiri. Selain itu, gue menulis di sini dengan harapan agar tulisannya nggak akan hilang dan bisa dijadikan pelajaran juga buat temen-temen lain yang baca blog gue.

Beberapa waktu lalu, gue ngobrol sama seorang temen. Omongannya itu seputar organisasi dan kepanitiaan lah. Terus, sampailah kita pada bahasan waktu rapat yang biasanya dimulai sekitar 15-20 menit setelah maghrib. Dia bilang, "Gue tuh pokoknya kalau udah mau rapat ngga bakalan deh jama'ah. Soalnya, kalau jama'ah itu lama. Padahal kan gue mau buru-buru rapat biar nggak telat." Saat denger itu, gue langsung istighfar. Kenapa? Setelah mendengar omongan temen gue ini, gue baru sadar kalau selama ini gue secara tidak sadar melakukan hal itu. Gue mendadak inget kalau selama ini gue sering terburu-buru sholatnya ketika ada panggilan rapat. Sudah terburu-buru, nggak fokus pula. Lengkap sudah. Gue juga jarang jama'ah dengan alasan kalau jama'ah nggak bisa buru-buru. Padahal mah ya kalau dipikir-pikir, memangnya ada sholat yang bisa dan boleh buru-buru? Nggak ada! Gue sering sholat di awal waktu bukan murni karena panggilan adzan, tapi karena ada panggilan rapat atau panggilan duniawi lainnya yang menunggu. Giliran nggak ada rapat? Gue jarang sholat di awal waktu. Padahal, mentor gue bilang kalau sholat di awal waktu kedudukannya lebih tinggi derajatnya dibanding jihad fii sabilillah yang perjuangannya patut diacungi jempol. Karena panggilan rapat juga gue pada akhirnya sering nggak berdoa dan wirid sehabis sholat. Kalaupun wirid pasti akan gue lakukan dengan terburu-buru dan nggak fokus sambil jalan menuju tempat rapat. Padahal, doa dan wirid itu buat kebaikan diri gue sendiri. Sebegitu pentingnya kah dunia dibanding akhirat?

Ketika gue menyadari itu semua, hati gue merasa nggak enak dan malu sama Allah. Gue diberi nikmat tubuh yang sehat dan kemampuan yang cukup untuk ikut organisasi dan kepanitian itu oleh siapa? Tentunya, Allah. Ini lagi. Meskipun gue sudah banyak berdosa kepada-Nya, tapi Allah masih mau mengingatkan kesalahan gue dengan cara-Nya sendiri, yaitu melalui omongan temen gue. Allah begitu baik pada gue. Tapi, ketika Allah memanggil gue untuk berkomunikasi padanya dan memunajatkan doa padanya, gue seakan menolak. Coba bayangkan kalau misalnya Allah itu orang tua gue. Orang tua pasti akan sedih kalau anaknya nggak mau ngobrol sama mereka. Padahal, mereka sudah memberikan kasih sayang, cinta, harta, keringat, dan lain sebagainya untuk gue. Duh, nggak tega gue bayanginnya. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah.

Semoga Allah mau mengampuni dosa kamu, Fin. Semoga Allah juga mau membantumu untuk istiqomah memperbaiki diri. Aamiin Allahuma Aamiin.

Tuesday, May 9, 2017

Rekomendasi Blog

Seiring berkembangnya social media, penggunaan blog semakin berkurang. Jujur, gue sangat menyayangkan hal itu karena nge-blog itu seru banget. Gue bisa membaca tulisan-tulisan, kajian-kajian, dan pikiran-pikiran mendalam dari para blogger karena di blog kita bisa nulis sepanjang-panjangnya, sedetil-detilnya. Gue juga bisa nge-spam tulisan sesuka hati gue tanpa harus takut dicap ‘tukang nge-spam’ karena orang-orang yang mau baca tulisan gue di blog itu pasti memang murni  kepo mau baca tulisan gue. Jadi, para pembaca harusnya maklum kalau ada spam curhatan dan sebagainya. Namanya juga blog pribadi. Urusan mereka mau follow blog gue apa nggak, itu balik lagi ke mereka, apakah mereka suka sama konten blog gue. Kalau di instagram kan biasanya asal lo kenal orangnya pasti difollow, jadi harus mikir-mikir tuh kalau mau nge-spam. Salah-salah nanti dikira ‘tukang nge-spam’ terus diunfollow deh. Terus, hal yang lebih serunya lagi adalah gimana susah-susah gampangnya gue harus mengatur tampilan blog gue supaya menarik. Itu nggak akan bisa gue lakuin dan rasain di instagram, twitter, dan social media hits yang lainnya.

Gue adalah pengguna blog sejak tahun 2013. Saat itu, masih banyak blogger yang aktif mem-posting konten yang menarik dan edukatif. Sekarang, Cuma segelintir orang yang masih aktif nge-blog dan punya konten menarik. Nah, sekarang gue mau rekomendasiin ke kalian blog apa aja yang menurut gue worth-it buat dikunjungin.


Orang dibalik blog ini adalah Kak Bianglala Andriadewa. Dia ini adalah mahasiswi jurusan psikologi UGM. Gue suka banget sama tulisan-tulisan di blog ini. Makna dari tulisan-tulisan di blog ini, tuh, pas banget deh buat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Di blog ini, gue bisa menemukan beberapa solusi dari permasalahan hidup yang gue alami, khususnya masalah yang berhubungan sama hubungan antar manusia dan kondisi psikologis. Gue sangat bersyukur karena masih ada orang seperti Kak Bianglala Andriadewa yang mau membagikan ilmu dan pengalamannya di blog, hehe.


Nah, kalau blog yang satu ini nggak perlu diragukan lagi. Siapa, sih, yang nggak tahu blognya Kak Gita Savitri Devi yang terkenal itu? Bahkan, orang-orang yang jarang nge-blog aja pasti tahu blognya Kak Gita. Gue pribadi sangat suka dengan pemikiran-pemikiran Kak Gita yang ia tuangkan dalam tulisannya. Dengan membaca tulisan dia, gue bisa jadi berpikiran lebih terbuka. Terus, gue bisa tahu gimana suka dukanya kuliah di luar negeri karena Kak Gita suka cerita tentang pengalaman hidupnya dia selama kuliah di Jerman. Nggak hanya itu, gue juga jadi tahu tourists spots yang keren-keren di beberapa negara dari tulisan Kak Gita. Selain memiliki konten yang menarik, blog ini juga punya tampilan yang simple tapi eye-catching. I like it!


Blog punya Kak Zahra ini baru aja gue temukan beberapa waktu lalu. Pertama kali gue baca tulisan Kak Zahra, gue langsung jatuh cinta sama blog beserta semua kontennya. Akhir-akhir ini, gue nggak bisa berhenti baca tulisan Kak Zahra. Semua tulisannya itu bener-bener menginspirasi gue buat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Di blog ini, gue bisa menemukan berbagai cerita hidup yang menarik, ilmu-ilmu agama islam yang nggak gue tahu, orang-orang hebat yang menginspirasi, buku-buku yang bagus, dan tentunya nasehat-nasehat yang baik. Menurut gue, tulisan-tulisan Kak Zahra terasa begitu tulus dan sarat akan makna. Baca tulisan Kak Zahra, tuh, rasanya kayak lagi muhasabah diri sehingga pada akhirnya gue jadi ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Sekian dulu rekomendasi dari gue. Kalau gue menemukan blog yang menarik lagi kapan-kapan pasti akan gue kasih tahu, kok. Oh iya, kalau kalian tahu blog-blog yang menarik dari segi konten dan tampilan, boleh banget tuh ditulis di kolom komentar biar gue juga bisa kunjungi. Hehe.

Sunday, April 30, 2017

Being An Introvert

Setelah sekian lama berniat untuk menulis tentang kepribadian introvert, akhirnya gue berhasil merealisasikannya sekarang karena ada sesuatu yang nge-triggered gue. Beberapa waktu lalu, gue melihat pesan anonim di sebuah official account. Isinya kurang lebih menceritakan tentang curhatan seorang introvert yang nggak pede untuk berorganisasi. Segala stereotipe tentang orang introvert tampaknya mengendalikan mental dan pikiran dia. Akibatnya, dia bener-bener menjadi minder, malu, dan nggak pede untuk terjun ke organisasi. Dia takut untuk bersosialisasi dan menyuarakan pemikiran dan ide-idenya. Bertemu dan bergaul dengan banyak orang baru menjadi momok yang menakutkan buat dia. Akhirnya, dia nggak berani berorganisasi sama sekali.

Gue sangat bisa relate dengan orang tersebut karena dulu gue pernah mengalami masa-masa itu. Menurut gue, hidup menjadi seorang introvert itu cukup melelahkan. Cukup banyak tantangan yang gue udah temui selama 19 tahun menjadi seorang introvert. Tapi jujur aja, semua tantangan yang udah gue lewati mampu mendewasakan pikiran gue dan membangun gue menjadi orang yang tahan banting. Salah satu tantangan yang paling berat adalah membentengi diri dari berbagai stereotipe tentang orang introvert supaya mental dan pikiran gue nggak terpengaruh. Orang introvert seringkali distereotipkan sebagai orang yang kurang bisa bergaul, awkward, nerd, minder, dan nggak punya kemampuan buat bersosialisasi.

Jujur aja, waktu jaman SMP awal gue pernah terpengaruh stereotipe tersebut. Kondisi mental dan pikiran gue kurang lebih sama seperti orang yang gue ceritakan di atas. Kalau lagi kumpul ekstrakurikuler gue lebih banyak menyendirinya. Saat itu, gue, nggak tahu kenapa, takut banget sama pemikiran orang tentang gue. Gue takut kalau gue nimbrung sama orang, orang itu nggak akan welcome sama gue. Gue takut sakit hati. Akibatnya, gue pun menutup diri. Kalau gue inget masa-masa itu, gue ngerasa bodoh banget. Bisa-bisanya gue punya ketakutan yang nggak berdasar, padahal gue belum mencoba sama sekali untuk dekat sama orang-orang itu. Suatu ketika, gue ketemu salah satu kakak kelas yang dulu bergabung di ekstrakurikuler yang sama terus dia nanya gini ke gue, “Fin, kenapa, sih, dulu kamu jarang gabung sama kita-kita? Padahal, mah, harusnya gabung aja. Kita seru-seruan bareng.” Gue ngerasa makin bodoh karena ternyata ketakutan gue dulu terbukti salah. Terus gue mikir kenapa juga gue harus takut sama mereka. Kita itu kan sama-sama manusia, sama-sama makan nasi, sama-sama hidup di bumi, sama-sama ciptaan Allah. Harusnya yang gue takutkan itu Allah, bukan mereka. Sejak saat itu, gue secara perlahan mulai membangun rasa percaya diri gue.

Selama beberapa tahun, gue jatuh bangun membentuk rasa percaya diri dan membentengi diri dari berbagai stereotipe yang ada supaya nggak minder. Gue mencoba untuk lebih mempercayai, menghargai dan, mencintai diri gue sendiri. Gue belajar untuk percaya diri dalam berorganisasi. Gue belajar untuk nggak peduli sama kritik-kritik yang nggak membangun dan nyinyiran dari orang-orang. Gue akui semua proses itu susah banget dan melelahkan. Tapi, semua itu worth it karena gue akhirnya bisa hidup sebagai orang yang percaya diri dan tahan banting. Gue akhirnya bisa menjadi orang yang dipercaya dan diandalkan saat berorganisasi. Dan yang paling penting, gue bisa bangga dan bahagia hidup sebagai orang introvert.

Intinya, gue mau membuktikan bahwa orang yang memiliki kepribadian introvert itu nggak melulu kurang bisa bergaul, awkward, nerd, minder, dan nggak punya kemampuan buat bersosialisasi kok. Lagipula, siapa bilang orang extrovert nggak pernah minder? Banyak juga, kok, temen-temen gue yang extrovert tapi pernah ngerasa minder. Semua itu balik lagi ke mental dan pola pikir masing-masing orang, sama sekali nggak ada hubungannya dengan kepribadian introvert atau extrovert. Kalau begitu, terus perbedaan orang introvert dan extrovert itu apa dong? Nah, perbedaannya adalah cara kita mendapatkan energi dan semangat. Orang introvert mendapatkan energi dan semangat ketika mereka sedang menyendiri atau me-time. Sedangkan, orang extrovert biasanya mendapatkan semua itu ketika mereka berkumpul dengan orang banyak. Gitu, sih, yang gue tahu. Kalau salah, mohon dikoreksi.

Terakhir, gue mau berpesan buat kalian para introvert yang masih ngerasa kurang percaya diri, semangat berubah ya! Gue aja bisa membangun rasa percaya diri, masa kalian nggak? Pasti kalian juga bisa! Jangan pernah berpikiran kalau jadi orang introvert itu sebuah hal yang negatif. Banyak, loh, orang-orang introvert yang keren dan hebat, contohnya Kak Gita Savitri Devi, Kak Alanda Kariza, Kak Bernard Batubara, dan masih banyak lagi. Kalau nggak percaya, coba deh searching di google. Terus gue juga mau bilang bahwa berorganisasi, bertemu, dan bergaul dengan banyak orang itu nggak semenakutkan yang kalian pikir kok. Kalau ada orang yang berpotensi menjatuhkan mental kalian, abaikan aja. Tapi, kalau ada yang memberikan kritik membangun, terima dengan senang hati karena itu bentuk kepedulian mereka kepada kalian kok. Semangat!

Terus, buat kalian semua yang sudah merasa percaya diri, tolong temen-temennya yang masih suka minderan tuh dirangkul dan diberi motivasi. Dukungan dari kalian semua, tuh, sangat berpengaruh positif buat mereka. Jangan malah dinyinyirin dan diremehin. Terima kasih.

Wednesday, March 22, 2017

Belajar Bercita-Cita

Dulu gue pernah bilang kalau gue itu tipe orang yang nggak punya cita-cita jangka menengah apalagi jangka panjang. Tujuan hidup gue cuma menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya dan memastikan bahwa hari besok harus lebih baik dari hari ini. But, guess what? Semenjak gue menjadi anak kuliahan, gue mendadak bisa punya cita-cita meskipun baru sebatas cita-cita jangka menengah.

Dari SD sampai SMA, jenis-jenis orang yang gue temui cuma itu-itu aja. Masalah yang gue temui juga itu-itu aja. Akibatnya, gue jadi punya mindset kalau kemampuan yang gue miliki saat itu udah lebih dari cukup. Gara-gara mindset yang seperti itu, gue jadi nggak punya pikiran untuk lebih mengembangkan potensi yang ada dalam diri gue. Bukan karena gue sombong atau gue merasa udah paling jago, tetapi semata karena gue nggak tahu mau mengembangkan potensi apa lagi di saat gue merasa kemampuan gue udah lebih dari cukup untuk sekadar survive.

Di dunia perkuliahan, gue terpaksa keluar dari zona nyaman gue. Gue hidup di luar kota tanpa didampingi kedua orang tua lagi. Gue benar-benar dilepas for the first time in my whole life. Di saat itulah masalah-masalah kehidupan yang sesungguhnya dan nggak pernah gue alami sebelumnya mulai berdatangan. Pergaulan gue juga semakin luas. Orang-orang yang gue temui semakin beragam, dan tentunya banyak yang jauh lebih hebat dari orang-orang yang pernah gue temui selama ini.  Di situ gue merasa kalau gue ini nggak ada apa-apanya banget dibanding mereka. Iya, gue baru sadar kalau kekurangan gue masih banyak banget. Gue juga baru sadar kalau kehidupan yang sesungguhnya itu di mulai ketika gue resmi dilepas oleh kedua orang tua gue untuk nggak tinggal bersama mereka dan keluar dari zona nyaman gue. Ternyata, kehidupan yang sesungguhnya itu nggak seindah kehidupan yang selama ini gue tahu. Betapa naifnya gue saat itu dengan berpikir bahwa kemampuan gue udah lebih dari cukup buat survive.

Keluar dari zona nyaman dan merasakan kehidupan yang sesungguhnya membuat gue perlahan lebih mengenali diri gue. Gue jadi lebih tahu kelebihan dan kekurangan gue. Gue juga jadi lebih tahu apa yang gue butuhkan atau inginkan. Sebagai contoh, gue seringkali bertemu dengan banyak mahasiswa yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga aktif dalam berorganisasi. Sementara itu, pengalaman organisasi gue masih nol besar. Padahal mereka lah yang nantinya akan menjadi saingan gue di dunia kerja. Kalau gue hanya fokus meraih IPK bagus aja, maka nantinya gue akan kalah saing dengan mereka karena mereka tentunya lebih memiliki soft-skills  yang didapatkan dengan berorganisasi. Gue pun berpikir bahwa gue juga harus mulai mencoba berorganisasi dengan serius. Gue harus mengembangkan potensi diri dan menambah soft-skills. Soalnya waktu SMA gue ikut organisasi karena ikut-ikutan teman aja tanpa tahu apa esensinya. Akhirnya, gue membuat target, yaitu gue harus aktif mengikuti kepanitiaan acara dan setidaknya menjadi pengurus salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) selama setahun ke depan. Gue pun mulai merancang strategi dan langkah-langkah yang tepat untuk mencapai target tersebut. Tanpa sadar, gue udah mulai merancang cita-cita dan berusaha merealisasikannya.

Sekarang, gue jadi tahu bahwa jika gue ingin merancang cita-cita, gue harus mengenali diri gue terlebih dahulu. Gue harus tahu kelebihan dan kekurangan diri gue serta apa yang gue butuhkan atau inginkan dalam hidup gue. Dan untuk mengetahui itu semua, gue perlu keluar dari zona nyaman gue.

Wednesday, February 1, 2017

Generasi Suka Mengeluh

Beberapa waktu lalu, gue konsul ke ibunya temen gue yang berprofesi sebagai psikolog tentang cita-cita. Ngomong-ngomong, artikel tentang cita-cita bisa kalian baca di postingan sebelum ini. Di sela-sela obrolan tentang cita-cita, beliau sempat menyinggung tentang kelebihan dan kekurangan diri. Gue pun disuruh memejamkan mata dan memikirkan 3 kelebihan serta 3 kekurangan gue dalam 1 menit. Setelah itu, gue disuruh nyebutin. Jujur, saat itu gue ngerasa susah buat nyebutinnya. Jangankan nyebutin, mikirinnya aja gue bingung. Beliau terus maksa gue untuk bisa nyebutin. Dengan susah payah, gue akhirnya bisa. Dari yang gue sebutin, beliau nyimpulin kalo gue itu punya kecerdasan yang cukup tinggi, namun kurang percaya diri dan sering pesimis. Beliau nanya, “Kenapa bisa gitu, Fin? Harusnya dengan kecerdasan yang cukup tinggi, nggak perlu bagi kamu ngerasa nggak pede, pesimis.” Gue pun tertegun. Kenapa gue bisa kayak gini, ya? Melihat gue yang kebingungan, beliau akhirnya menjelaskan.

Rupanya, faktor pergaulan menjadi salah satu penyebab gue sering ngerasa nggak pede. Kalian sering nggak, sih, nemuin orang yang kerjaannya ngeluh terus? Mau ujian ngeluh. Dikasih kerjaan yang susah ngeluh. Apa-apa ngeluh, deh, pokoknya. Jujur aja sih ya, gue sering bahkan hampir tiap hari ketemu orang-orang kayak gini. Ternyata, keluhan-keluhan orang ini bisa memberi energi negatif pada diri lo. Misalnya, minggu depan lo mau ujian kalkulus. Terus, temen-temen lo pada bilang, “Anjir ujian kalkulus. Pasti susah, deh. Materinya kan banyak banget. Udah banyak, ribet lagi. Lo udah liat soal tahun lalu belom? Susah banget tau. Mampus deh gue. Mau ngerjain apa minggu depan.” Nah, kalo lo dengerin keluhan temen-temen lo itu tanpa ada pembentengan mental, ada dua kemungkinan efek yang terjadi pada diri lo.

Efek yang pertama adalah lo bakal jadi ikut-ikutan punya mindset kalo ujian kalkulus itu susah. Padahal, nyoba aja belom. Usaha aja belom. Gimana bisa lo nyimpulin kalo itu susah? Kalo lo udah punya mindset negatif duluan sebelum nyoba, otomatis lo bakal nggak semangat belajarnya. Terus, lo bakal menjadikan sesuatu yang harusnya mudah menjadi sulit karena mindset negatif lo itu. Ujung-ujungnya apa? Lo bakal jadi pesimis. Ujung-ujungnya juga lo akan ikut-ikutan jadi orang yang suka mengeluh.

Ibunya temen gue cerita kalo dulu ada satu ujian yang selalu ditakuti anak-anak psikologi di kampusnya dari tahun ke tahun. Yang bikin soal ujiannya itu adalah seorang guru besar dan soalnya itu terkenal susah banget. Dalam sejarah jurusan psikologi di kampusnya, belom ada yang pernah lulus ujian itu. Sekalinya ada yang lulus cuma satu orang dan itu pun cuma dapet nilai C. Akhirnya, waktu ibunya temen gue mau ujian, beliau nanya ke kakak tingkatnya yang dapet nilai C itu kenapa dia bisa lulus. Katanya, dia juga nggak tau kenapa dia bisa lulus. Yang jelas sebelum ujian, dia nggak pernah mau peduli sama keluhan temen-temennya. Dia cuma mau fokus belajar dengan sebaik-baiknya aja.

Ibunya temen gue akhirnya ngikutin cara kakak tingkatnya. Beliau menutup kuping dari segala keluhan temen-temennya. Beliau fokus belajar. Dan beliau menanamkan mindset yang kurang lebih seperti ini. Dapet soal dari guru besar itu adalah suatu kehormatan buat gue. Kapan lagi gue dapet tantangan dari seorang guru besar? Kalau gue bisa mengerti jalan pikiran seorang guru besar dengan menjawab soal-soalnya dengan benar kan akan menjadi suatu pencapaian yang keren buat gue. Hasilnya apa? Beliau lulus coy, bahkan dapet nilai B. Beliau jadi orang pertama yang dapet nilai B dalam sejarah jurusan psikologi di kampusnya. Bayangin segitu besarnya pengaruh mindset terhadap pencapaian lo. Jadi, jangan sampe keluhan temen-temen lo membuat mindset lo jadi negatif. Carilah lingkaran pertemanan yang positif dan usahakan juga untuk agak menjauh dari temen-temen yang suka mengeluh.

Lanjuuuuut. Efek yang kedua adalah lo akan meremehkan ujian kalkulus itu karena banyak temen-temen lo yang ngeluh nggak bisa. Efek ini berlaku bagi orang yang merasa udah jago kalkulus maupun yang nggak jago atau biasa aja. Ketika seseorang ngerasa udah jago kalkulus terus temen-temennya banyak yang ngeluh nggak bisa, kebanyakan orang malah justru akan meremehkan ujian kalkulus itu. Bayangin aja. Orang itu udah di level 5, terus temen-temennya yang ngeluh masih di level 2. Pastinya dia bakal mikir, “Yaelah sejelek-jeleknya nilai gue, pasti masih lebih jelek nilai mereka. Secara gue lebih jago dari mereka.” Karena punya pikiran kayak gitu mereka akhirnya belajarnya santai-santai aja. Akibatnya apa? Banyak kasus yang gue temuin dimana orang-orang yang bermindset seperti itu justru mendapatkan nilai yang tidak sesuai ekspektasi karena mereka meremehkan.

Ketika seseorang ngerasa nggak jago kalkulus atau biasa aja terus banyak temen-temennya yang ngeluh nggak bisa, otomatis dia akan ngerasa safe karena banyak temen yang senasib sama dia. Akhirnya dia bakal mikir, “Ah bodo amat lah sama ujian ini. Toh, gue nggak akan dapet jelek sendirian.” Padahal gue yakin kalo kalian berusaha dengan maksimal pasti akan lulus dan bisa dapet nilai bagus. Usaha tidak akan mengkhianati hasil coy. Kalian itu nggak boleh diperbudak sama keluhan-keluhan dari temen-temen kalian. Kalian harus berhati-hati terhadap siapa yang sedang mengeluh karena bisa jadi ia mengeluh hanya untuk melakukan psywar, baik secara sadar maupun tanpa sadar. Kalian tau nggak sih apa itu psywar?

Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, MA., psywar adalah suatu metode komunikasi yang secara berencana dan sistematis berupaya mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam ajang kemiliteran, politik, ekonomi dan lain-lain untuk meraih kemenangan. Di dunia ini banyak banget orang licik yang menggunakan psywar coy. Kalian pasti sering denger istilah diem-diem ngambis kan? Nah, itu tuh salah satu bentuk psywar. Misalnya nih, besok mau ada ujian dadakan. Terus, ada satu orang bilang, “Gausah belajar aja yuk sekelas. Percuma kali belajar. Ujiannya besok dan materinya banyak banget.” Yang lain akhirnya setuju. Padahal ternyata dia diem-diem memanfaatkan kepolosan kalian dengan justru belajar supaya besok dapet nilai bagus sendiri. Atau mungkin emang dia beneran nggak akan belajar, tapi lihat dulu dia otaknya pentium berapa coy. Kalo otaknya pentium 4, nggak akan jadi masalah kalo dia nggak belajar. Mau nggak belajar pun pasti dia akan lulus berapa pun nilainya. Setelah gue kasih tau tentang psywar ini, gue harap kalian bisa lebih berhati-hati dan nggak akan menyalahgunakannya ya.

Gue harap dengan gue bikin tulisan ini kalian akan berhenti mengeluh dan terpengaruh oleh keluhan karena efeknya sangat nggak baik buat mindset kalian.

Saturday, January 28, 2017

Nggak Punya Cita-Cita

Hai, Picturesque! Apa kabar? Kayaknya udah berdebu banget, nih, saking nggak pernah disentuh sama pemiliknya. Bayangin aja udah hampir 4 tahun nggak pernah dilihat apalagi diotak-atik. Jujur aja selama 4 tahun belakangan ini gue males banget nulis. What a shame. Padahal kalau gue rajin, pasti kemampuan nulis gue bisa meningkat. Sekarang mau nggak mau gue harus mulai dari 0 lagi, deh. Tapi sumpah ya, setelah gue baca lagi tulisan-tulisan gue di blog ini, gue ngerasa geli dan malu sendiri bacanya. Gue akuin gue dulu alay banget. Lol. But whatever, namanya juga masih belajar kan *ngeles*. Oh iya, sambil gue beberes blog yang super berdebu ini, gue mau ngasih kalian sebuah tulisan tentang cita-cita. Hope you guys like it!
------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa hari belakangan ini gue banyak merenung tentang cita-cita. Gue baru sadar kalau gue nggak pernah punya yang namanya cita-cita. Kalaupun ditanya orang, gue pasti cuma jawab dengan jawaban umum khas anak kecil; dokter, arsitek, atau nggak insinyur. Selama ini, gue ngejalanin hidup gue bener-bener tanpa tujuan. Kalau dianalogikan sebagai kapal di laut, gue ini kapal tanpa tujuan yang cuma ngikutin arus laut. Terserah aja itu arus mau ngebawa kapalnya kemana. Gue mengendalikan kapal ini hanya ketika bener-bener dibutuhkan, misalnya ketika kapal gue mau nabrak batu karang. Gue akhirnya berpikir, salah nggak, sih, kalau gue hidup kayak gini?

Gue pun berdiskusi dengan beberapa temen mengenai hal ini. Ada yang berpendapat bahwa cita-cita untuk beberapa tahun ke depan itu penting. Dia merencanakan cita-citanya dengan cukup detil. Menurut dia, cita-cita itu sebuah tujuan. Ketika dia punya tujuan, akan lebih mudah bagi dia untuk menentukan akan berjalan kemana. Meskipun bisa saja di tengah jalan nanti dia sedikit berbelok. Ada yang ternyata menganggap bahwa  cita-cita untuk beberapa tahun ke depan itu nggak terlalu penting, yang penting jalanin aja setiap hari dengan sebaik-baiknya. Setelah mendapat perbandingan, gue memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada ibunya temen gue yang berprofesi sebagai psikolog.

Ternyata, di dunia ini ada tiga jenis orang kalau digolongkan dengan caranya menentukan cita-cita. Golongan yang pertama menganggap kalau mempunyai cita-cita jangka panjang itu penting. Jangka panjang yang dimaksud di sini adalah sekitar 10-15 tahun ke depan. Pandangan golongan ini sama seperti pandangan temen gue yang pertama. Tanpa adanya cita-cita yang jelas dan detil, mereka akan cenderung bingung saat menentukan mau berjalan ke mana. Tapi, ada juga yang bakal ngerasa capek kalau hidupnya dibayang-bayangi cita-cita yang terlalu banyak di masa depan. Meskipun begitu, mereka tetep butuh cita-cita juga. Nah, orang-orang kayak gini masuk ke golongan ke-dua. Golongan ini biasanya cuma punya cita-cita jangka menengah, kira-kira hanya sekitar 5 tahun ke depan. Contohnya adalah ibunya temen gue ini. Ketika beliau menargetkan sesuatu, biasanya jangka waktunya cuma untuk 5 tahun ke depan. Kalau targetnya udah tercapai, kadang-kadang beliau istirahat dulu. Kalau udah semangat lagi atau kalau udah butuh sesuatu, baru deh beliau menargetkan cita-cita lagi.

Terus, golongan ke-tiga itu kayak gimana? Nah, ternyata orang kayak gue itu masuk golongan ke-tiga. Gila. Gue aja kaget ternyata orang kayak gue ada golongannya. Orang-orang kayak gue, nih, emang pada dasarnya nggak punya cita-cita jangka menengah apalagi jangka panjang. Tujuan gue hidup, yaa, cuma buat menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya. Kalo bisa hari besok justru lebih baik dari hari ini. Terus gue tanya kan apakah hidup tanpa cita-cita gini itu salah. Jawabannya nggak sama sekali. Meskipun begitu, kamu tetep harus nyari tau di masa depan kira-kira ada tantangan, hambatan, atau peluang apa sehingga kalau waktu itu dateng kamu nggak akan kaget. Nah yang salah itu adalah yang udah nggak punya cita-cita, tapi dia ngejalanin hari-harinya dengan males-malesan. Bahkan nggak ada keinginan untuk menjadikan hari besok lebih baik dari hari ini. Itu sih namanya pasrah banget. Gimana Tuhan lo mau ngubah nasib lo kalau lo sendiri nggak mau berusaha? Di agama gue, hal ini diajarkan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam QS Al-Hujurat ayat 13 yang artinya kayak gini:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Nah, semoga artikel gue kali ini dapat menghilangkan kebingungan dan keresahan lo semua yang nggak punya cita-cita kayak gue, he. Terus, kalau ada temen lo yang punya masalah yang sama kayak gue, nih, kalian bisa banget ngasih artikel ini ke mereka karena gue dapet pengetahuan ini dari narasumber yang terpercaya. *ceritanya sekalian promosiin blog, he*