Dulu gue pernah bilang kalau gue itu tipe orang yang nggak
punya cita-cita jangka menengah apalagi jangka panjang. Tujuan hidup gue cuma
menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya dan memastikan bahwa hari besok
harus lebih baik dari hari ini. But,
guess what? Semenjak gue menjadi anak kuliahan, gue mendadak bisa punya
cita-cita meskipun baru sebatas cita-cita jangka menengah.
Dari SD sampai SMA, jenis-jenis orang yang gue temui cuma
itu-itu aja. Masalah yang gue temui juga itu-itu aja. Akibatnya, gue jadi punya
mindset kalau kemampuan yang gue
miliki saat itu udah lebih dari cukup. Gara-gara mindset yang seperti itu, gue jadi nggak punya pikiran untuk lebih
mengembangkan potensi yang ada dalam diri gue. Bukan karena gue sombong atau
gue merasa udah paling jago, tetapi semata karena gue nggak tahu mau mengembangkan
potensi apa lagi di saat gue merasa kemampuan gue udah lebih dari cukup untuk
sekadar survive.
Di dunia perkuliahan, gue terpaksa keluar dari zona nyaman
gue. Gue hidup di luar kota tanpa didampingi kedua orang tua lagi. Gue
benar-benar dilepas for the first time in
my whole life. Di saat itulah masalah-masalah kehidupan yang sesungguhnya
dan nggak pernah gue alami sebelumnya mulai berdatangan. Pergaulan gue juga semakin
luas. Orang-orang yang gue temui semakin beragam, dan tentunya banyak yang jauh
lebih hebat dari orang-orang yang pernah gue temui selama ini. Di situ gue merasa kalau gue ini nggak ada
apa-apanya banget dibanding mereka. Iya, gue baru sadar kalau kekurangan gue
masih banyak banget. Gue juga baru sadar kalau kehidupan yang sesungguhnya itu
di mulai ketika gue resmi dilepas oleh kedua orang tua gue untuk nggak tinggal
bersama mereka dan keluar dari zona nyaman gue. Ternyata, kehidupan yang
sesungguhnya itu nggak seindah kehidupan yang selama ini gue tahu. Betapa
naifnya gue saat itu dengan berpikir bahwa kemampuan gue udah lebih dari cukup
buat survive.
Keluar dari zona nyaman dan merasakan kehidupan yang
sesungguhnya membuat gue perlahan lebih mengenali diri gue. Gue jadi lebih tahu
kelebihan dan kekurangan gue. Gue juga jadi lebih tahu apa yang gue butuhkan atau inginkan. Sebagai contoh, gue seringkali bertemu dengan banyak mahasiswa
yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga aktif dalam berorganisasi. Sementara itu, pengalaman organisasi gue masih nol besar. Padahal mereka lah
yang nantinya akan menjadi saingan gue di dunia kerja. Kalau gue hanya fokus
meraih IPK bagus aja, maka nantinya gue akan kalah saing dengan mereka karena
mereka tentunya lebih memiliki soft-skills
yang didapatkan dengan
berorganisasi. Gue pun berpikir bahwa gue juga harus mulai mencoba
berorganisasi dengan serius. Gue harus mengembangkan potensi diri dan menambah soft-skills. Soalnya waktu SMA gue ikut
organisasi karena ikut-ikutan teman aja tanpa tahu apa esensinya. Akhirnya, gue
membuat target, yaitu gue harus aktif mengikuti kepanitiaan acara dan setidaknya
menjadi pengurus salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) selama setahun ke
depan. Gue pun mulai merancang strategi dan langkah-langkah yang tepat untuk
mencapai target tersebut. Tanpa sadar, gue udah mulai merancang cita-cita dan
berusaha merealisasikannya.
Sekarang, gue jadi tahu bahwa jika gue ingin merancang
cita-cita, gue harus mengenali diri gue terlebih dahulu. Gue harus tahu
kelebihan dan kekurangan diri gue serta apa yang gue butuhkan atau inginkan
dalam hidup gue. Dan untuk mengetahui itu semua, gue perlu keluar dari zona
nyaman gue.
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete