Thursday, May 11, 2017

Panggilan Adzan v.s. Panggilan Rapat

Disclaimer: Gue menulis ini dengan tujuan untuk muhasabah diri. Kenapa gue menulisnya di blog? Soalnya, blog itu sudah gue anggep diary gue sendiri. Selain itu, gue menulis di sini dengan harapan agar tulisannya nggak akan hilang dan bisa dijadikan pelajaran juga buat temen-temen lain yang baca blog gue.

Beberapa waktu lalu, gue ngobrol sama seorang temen. Omongannya itu seputar organisasi dan kepanitiaan lah. Terus, sampailah kita pada bahasan waktu rapat yang biasanya dimulai sekitar 15-20 menit setelah maghrib. Dia bilang, "Gue tuh pokoknya kalau udah mau rapat ngga bakalan deh jama'ah. Soalnya, kalau jama'ah itu lama. Padahal kan gue mau buru-buru rapat biar nggak telat." Saat denger itu, gue langsung istighfar. Kenapa? Setelah mendengar omongan temen gue ini, gue baru sadar kalau selama ini gue secara tidak sadar melakukan hal itu. Gue mendadak inget kalau selama ini gue sering terburu-buru sholatnya ketika ada panggilan rapat. Sudah terburu-buru, nggak fokus pula. Lengkap sudah. Gue juga jarang jama'ah dengan alasan kalau jama'ah nggak bisa buru-buru. Padahal mah ya kalau dipikir-pikir, memangnya ada sholat yang bisa dan boleh buru-buru? Nggak ada! Gue sering sholat di awal waktu bukan murni karena panggilan adzan, tapi karena ada panggilan rapat atau panggilan duniawi lainnya yang menunggu. Giliran nggak ada rapat? Gue jarang sholat di awal waktu. Padahal, mentor gue bilang kalau sholat di awal waktu kedudukannya lebih tinggi derajatnya dibanding jihad fii sabilillah yang perjuangannya patut diacungi jempol. Karena panggilan rapat juga gue pada akhirnya sering nggak berdoa dan wirid sehabis sholat. Kalaupun wirid pasti akan gue lakukan dengan terburu-buru dan nggak fokus sambil jalan menuju tempat rapat. Padahal, doa dan wirid itu buat kebaikan diri gue sendiri. Sebegitu pentingnya kah dunia dibanding akhirat?

Ketika gue menyadari itu semua, hati gue merasa nggak enak dan malu sama Allah. Gue diberi nikmat tubuh yang sehat dan kemampuan yang cukup untuk ikut organisasi dan kepanitian itu oleh siapa? Tentunya, Allah. Ini lagi. Meskipun gue sudah banyak berdosa kepada-Nya, tapi Allah masih mau mengingatkan kesalahan gue dengan cara-Nya sendiri, yaitu melalui omongan temen gue. Allah begitu baik pada gue. Tapi, ketika Allah memanggil gue untuk berkomunikasi padanya dan memunajatkan doa padanya, gue seakan menolak. Coba bayangkan kalau misalnya Allah itu orang tua gue. Orang tua pasti akan sedih kalau anaknya nggak mau ngobrol sama mereka. Padahal, mereka sudah memberikan kasih sayang, cinta, harta, keringat, dan lain sebagainya untuk gue. Duh, nggak tega gue bayanginnya. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah.

Semoga Allah mau mengampuni dosa kamu, Fin. Semoga Allah juga mau membantumu untuk istiqomah memperbaiki diri. Aamiin Allahuma Aamiin.

No comments:

Post a Comment