Kemarin, seseorang dan beberapa
temannya tiba-tiba ngomong sesuatu yang ngga enak banget (menurut gue) tentang
gue padahal disitu situasinya lagi banyak banget orang. Parahnya, dia gabegitu kenal
gue dan gue pun juga gitu. Gue cuma bisa masang tampang datar saat itu,
pura-pura nggak ngerti kalau perkataan itu ditujukan buat gue. Gue pikir gue
bisa biasa aja menanggapi hal itu. Tapi ternyata, gue bener-bener langsung ngerasa
bete dan kesel seharian padahal gue tau itu cuma sebuah candaan aja. Gue udah
coba mengusir semua rasa itu tapi nggak bisa. Efeknya pun masih terasa sampe
beberapa hari berikutnya.
Akhir-akhir ini, gue emang suka khilaf
kalau bercanda sama temen-temen gue. Gue sama temen-temen gue kadang suka bercanda
dan menertawakan orang lain, entah karena orang itu sikapnya aneh atau karena
hal lainnya yang menurut kami lucu. Jahat? Iya, gue menyadari hal itu kok. Tapi
entah kenapa, waktu itu gue seakan-akan nggak inget kalau perasaan orang lain
itu bisa tersakiti walaupun semua itu hanya candaan belaka. Mungkin orang yang
ditertawakan akan ikut tertawa atau terlihat biasa aja dalam menanggapi candaan
gue sama temen-temen gue, seakan-akan dia nggak masalah sama hal itu. Tapi, gue
lupa kalau gue nggak bisa membaca hati seseorang. Gue lupa kalau manusia jaman
sekarang itu sangat pandai memakai topeng, pandai bersandiwara. Dengan kejadian
kemarin, Allah seakan ingin mengingatkan gue tentang hal itu. Gue akhirnya kembali
tersadarkan bahwa ternyata efek perkataan buruk bisa sangat mempengaruhi kondisi
psikologis seseorang walaupun di luar dia terlihat biasa aja. Well sebenarnya,
perkataan baik pun juga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, sih. Tapi,
di tulisan kali ini gue mau fokus ke yang perkataan buruk aja. Gue bersyukur
Allah masih baik sama gue karena mau mengingatkan semua hal itu dengan
perantara orang lain. Bagaimana kalau Allah tidak mengingatkan dan menegur gue?
Tentu dosa gue akan semakin menumpuk.
No comments:
Post a Comment