Saturday, January 28, 2017

Nggak Punya Cita-Cita

Hai, Picturesque! Apa kabar? Kayaknya udah berdebu banget, nih, saking nggak pernah disentuh sama pemiliknya. Bayangin aja udah hampir 4 tahun nggak pernah dilihat apalagi diotak-atik. Jujur aja selama 4 tahun belakangan ini gue males banget nulis. What a shame. Padahal kalau gue rajin, pasti kemampuan nulis gue bisa meningkat. Sekarang mau nggak mau gue harus mulai dari 0 lagi, deh. Tapi sumpah ya, setelah gue baca lagi tulisan-tulisan gue di blog ini, gue ngerasa geli dan malu sendiri bacanya. Gue akuin gue dulu alay banget. Lol. But whatever, namanya juga masih belajar kan *ngeles*. Oh iya, sambil gue beberes blog yang super berdebu ini, gue mau ngasih kalian sebuah tulisan tentang cita-cita. Hope you guys like it!
------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa hari belakangan ini gue banyak merenung tentang cita-cita. Gue baru sadar kalau gue nggak pernah punya yang namanya cita-cita. Kalaupun ditanya orang, gue pasti cuma jawab dengan jawaban umum khas anak kecil; dokter, arsitek, atau nggak insinyur. Selama ini, gue ngejalanin hidup gue bener-bener tanpa tujuan. Kalau dianalogikan sebagai kapal di laut, gue ini kapal tanpa tujuan yang cuma ngikutin arus laut. Terserah aja itu arus mau ngebawa kapalnya kemana. Gue mengendalikan kapal ini hanya ketika bener-bener dibutuhkan, misalnya ketika kapal gue mau nabrak batu karang. Gue akhirnya berpikir, salah nggak, sih, kalau gue hidup kayak gini?

Gue pun berdiskusi dengan beberapa temen mengenai hal ini. Ada yang berpendapat bahwa cita-cita untuk beberapa tahun ke depan itu penting. Dia merencanakan cita-citanya dengan cukup detil. Menurut dia, cita-cita itu sebuah tujuan. Ketika dia punya tujuan, akan lebih mudah bagi dia untuk menentukan akan berjalan kemana. Meskipun bisa saja di tengah jalan nanti dia sedikit berbelok. Ada yang ternyata menganggap bahwa  cita-cita untuk beberapa tahun ke depan itu nggak terlalu penting, yang penting jalanin aja setiap hari dengan sebaik-baiknya. Setelah mendapat perbandingan, gue memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada ibunya temen gue yang berprofesi sebagai psikolog.

Ternyata, di dunia ini ada tiga jenis orang kalau digolongkan dengan caranya menentukan cita-cita. Golongan yang pertama menganggap kalau mempunyai cita-cita jangka panjang itu penting. Jangka panjang yang dimaksud di sini adalah sekitar 10-15 tahun ke depan. Pandangan golongan ini sama seperti pandangan temen gue yang pertama. Tanpa adanya cita-cita yang jelas dan detil, mereka akan cenderung bingung saat menentukan mau berjalan ke mana. Tapi, ada juga yang bakal ngerasa capek kalau hidupnya dibayang-bayangi cita-cita yang terlalu banyak di masa depan. Meskipun begitu, mereka tetep butuh cita-cita juga. Nah, orang-orang kayak gini masuk ke golongan ke-dua. Golongan ini biasanya cuma punya cita-cita jangka menengah, kira-kira hanya sekitar 5 tahun ke depan. Contohnya adalah ibunya temen gue ini. Ketika beliau menargetkan sesuatu, biasanya jangka waktunya cuma untuk 5 tahun ke depan. Kalau targetnya udah tercapai, kadang-kadang beliau istirahat dulu. Kalau udah semangat lagi atau kalau udah butuh sesuatu, baru deh beliau menargetkan cita-cita lagi.

Terus, golongan ke-tiga itu kayak gimana? Nah, ternyata orang kayak gue itu masuk golongan ke-tiga. Gila. Gue aja kaget ternyata orang kayak gue ada golongannya. Orang-orang kayak gue, nih, emang pada dasarnya nggak punya cita-cita jangka menengah apalagi jangka panjang. Tujuan gue hidup, yaa, cuma buat menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya. Kalo bisa hari besok justru lebih baik dari hari ini. Terus gue tanya kan apakah hidup tanpa cita-cita gini itu salah. Jawabannya nggak sama sekali. Meskipun begitu, kamu tetep harus nyari tau di masa depan kira-kira ada tantangan, hambatan, atau peluang apa sehingga kalau waktu itu dateng kamu nggak akan kaget. Nah yang salah itu adalah yang udah nggak punya cita-cita, tapi dia ngejalanin hari-harinya dengan males-malesan. Bahkan nggak ada keinginan untuk menjadikan hari besok lebih baik dari hari ini. Itu sih namanya pasrah banget. Gimana Tuhan lo mau ngubah nasib lo kalau lo sendiri nggak mau berusaha? Di agama gue, hal ini diajarkan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam QS Al-Hujurat ayat 13 yang artinya kayak gini:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Nah, semoga artikel gue kali ini dapat menghilangkan kebingungan dan keresahan lo semua yang nggak punya cita-cita kayak gue, he. Terus, kalau ada temen lo yang punya masalah yang sama kayak gue, nih, kalian bisa banget ngasih artikel ini ke mereka karena gue dapet pengetahuan ini dari narasumber yang terpercaya. *ceritanya sekalian promosiin blog, he*

No comments:

Post a Comment