Hai, Picturesque! Apa kabar? Kayaknya udah berdebu
banget, nih, saking nggak pernah disentuh sama pemiliknya. Bayangin aja udah
hampir 4 tahun nggak pernah dilihat apalagi diotak-atik. Jujur aja selama 4
tahun belakangan ini gue males banget nulis. What a shame. Padahal kalau gue rajin, pasti kemampuan nulis gue
bisa meningkat. Sekarang mau nggak mau gue harus mulai dari 0 lagi, deh. Tapi sumpah
ya, setelah gue baca lagi tulisan-tulisan gue di blog ini, gue ngerasa geli dan
malu sendiri bacanya. Gue akuin gue dulu alay banget. Lol. But whatever, namanya juga masih belajar kan *ngeles*. Oh iya,
sambil gue beberes blog yang super berdebu ini, gue mau ngasih kalian sebuah
tulisan tentang cita-cita. Hope you guys
like it!
------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa hari belakangan ini gue banyak merenung tentang
cita-cita. Gue baru sadar kalau gue nggak pernah punya yang namanya cita-cita.
Kalaupun ditanya orang, gue pasti cuma jawab dengan jawaban umum khas anak
kecil; dokter, arsitek, atau nggak insinyur. Selama ini, gue ngejalanin hidup
gue bener-bener tanpa tujuan. Kalau dianalogikan sebagai kapal di laut, gue ini
kapal tanpa tujuan yang cuma ngikutin arus laut. Terserah aja itu arus mau
ngebawa kapalnya kemana. Gue mengendalikan kapal ini hanya ketika bener-bener
dibutuhkan, misalnya ketika kapal gue mau nabrak batu karang. Gue akhirnya
berpikir, salah nggak, sih, kalau gue hidup kayak gini?
Gue pun berdiskusi dengan beberapa temen mengenai hal ini. Ada
yang berpendapat bahwa cita-cita untuk beberapa tahun ke depan itu penting. Dia
merencanakan cita-citanya dengan cukup detil. Menurut dia, cita-cita itu sebuah
tujuan. Ketika dia punya tujuan, akan lebih mudah bagi dia untuk menentukan
akan berjalan kemana. Meskipun bisa saja di tengah jalan nanti dia sedikit
berbelok. Ada yang ternyata menganggap bahwa
cita-cita untuk beberapa tahun ke depan itu nggak terlalu penting, yang
penting jalanin aja setiap hari dengan sebaik-baiknya. Setelah mendapat
perbandingan, gue memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada ibunya temen gue
yang berprofesi sebagai psikolog.
Ternyata, di dunia ini ada tiga jenis orang kalau digolongkan
dengan caranya menentukan cita-cita. Golongan yang pertama menganggap kalau
mempunyai cita-cita jangka panjang itu penting. Jangka panjang yang dimaksud di
sini adalah sekitar 10-15 tahun ke depan. Pandangan golongan ini sama seperti
pandangan temen gue yang pertama. Tanpa adanya cita-cita yang jelas dan detil,
mereka akan cenderung bingung saat menentukan mau berjalan ke mana. Tapi, ada
juga yang bakal ngerasa capek kalau hidupnya dibayang-bayangi cita-cita yang
terlalu banyak di masa depan. Meskipun begitu, mereka tetep butuh cita-cita
juga. Nah, orang-orang kayak gini masuk ke golongan ke-dua. Golongan ini
biasanya cuma punya cita-cita jangka menengah, kira-kira hanya sekitar 5 tahun
ke depan. Contohnya adalah ibunya temen gue ini. Ketika beliau menargetkan
sesuatu, biasanya jangka waktunya cuma untuk 5 tahun ke depan. Kalau targetnya udah
tercapai, kadang-kadang beliau istirahat dulu. Kalau udah semangat lagi atau
kalau udah butuh sesuatu, baru deh beliau menargetkan cita-cita lagi.
Terus, golongan ke-tiga itu kayak gimana? Nah, ternyata orang
kayak gue itu masuk golongan ke-tiga. Gila. Gue aja kaget ternyata orang kayak
gue ada golongannya. Orang-orang kayak gue, nih, emang pada dasarnya nggak
punya cita-cita jangka menengah apalagi jangka panjang. Tujuan gue hidup, yaa,
cuma buat menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya. Kalo bisa hari besok
justru lebih baik dari hari ini. Terus gue tanya kan apakah hidup tanpa
cita-cita gini itu salah. Jawabannya nggak sama sekali. Meskipun begitu, kamu
tetep harus nyari tau di masa depan kira-kira ada tantangan, hambatan, atau
peluang apa sehingga kalau waktu itu dateng kamu nggak akan kaget. Nah yang
salah itu adalah yang udah nggak punya cita-cita, tapi dia ngejalanin
hari-harinya dengan males-malesan. Bahkan nggak ada keinginan untuk menjadikan
hari besok lebih baik dari hari ini. Itu sih namanya pasrah banget. Gimana
Tuhan lo mau ngubah nasib lo kalau lo sendiri nggak mau berusaha? Di agama gue,
hal ini diajarkan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam QS Al-Hujurat ayat 13 yang
artinya kayak gini:
“Baginya (manusia) ada
malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan
belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum
mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak
ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Nah, semoga
artikel gue kali ini dapat menghilangkan kebingungan dan keresahan lo semua
yang nggak punya cita-cita kayak gue, he.
Terus, kalau ada temen lo yang punya masalah yang sama kayak gue, nih, kalian
bisa banget ngasih artikel ini ke mereka karena gue dapet pengetahuan ini dari
narasumber yang terpercaya. *ceritanya
sekalian promosiin blog, he*
No comments:
Post a Comment